Minggu, 06 Juni 2010

Kelas 5 Semester 2

DANA

A. Pengertian Dana

Berdana berarti memberikan sesuatu barang atau jasa kebajikan kepada orang lain dan/atau makhluk yang membutuhkan tanpa mengharapkan suatu balasan atau imbalan. merupakan satu langkah awal yang penting dalam praktek Buddhis. Berdana jika diimbangi dengan moralitas yang baik, konsentrasi dan kebijaksanaan akan menghasilkan pembebasan dari lingkaran tuimbal lahir (Samsara).
Dana paramita dapat dibedakan atas dua macam, sesuai kehendak seseorang yang melaksanakannya.
1. Dana yang dilakukan oleh orang biasa dan orang suci
a. Amisadana
b. Dhammadana
2. Dana yang hanya dapat dilakukan oleh orang suci
a. Atidana
b. Mahatidana


B. Macam-macam Dana

Menurut kitab Sangyang kamahayanikan dana di kelompokkan menjadi empat macam, yaitu:

a. Amisadana.
Amisadana yaitu memberikan bantuan dalam bentuk barang-barang, uang atau bentuk materi lainnya, Amisadana merupakan dana yang laing mudah dan paling ringan dilakukan seseorang, sehingga disebut sebagai “ Hinadana”.

b. Atidana
Atidana yaitu memberikan kepentingan diri pribadi untuk kebahagiaan dan kesejahteraan makhluk lain. Atidana ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah terbebas dari keterikatan, karena kuatnya dorongan karuna kepada semua makhluk, Sebagai contoh Sidharta Gotama, ia ikhlas meninggalkan istananya dengan segala kekuasaan dan kesenangannya, anak istrinya serta sanak keluarga yang dicintainya, demi untuk mencari jalan guna membebaskan umat manusia dari pendritaan.

c. Mahatidana
Mahatidana yaitu iklas memberikan jiwa-raga demi kepentingan mahluk-mahluk yang menderita, yang membutuhkan pertolongannya, contohnya bodhisatva sotasoma menyerahkan dirinya dimakan harimau yang sedang menderita kelaparan dan hendak memakan anaknya sendiri.
Seorang pahlawan yang berjiwa besar rela mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan negaranya, yang berarti menyelamatkan bangsanya dengan tidak mengharapkan jasa.

D. Dhammadana
Dhammadana yaitu berdana dalam bentuk mental dan spritual berupa nasehat-nasehat, yang biasa dilakukan para bhikkhu atau pandita atau upasakha – upasikha. Contah orang yang kecanduan alkohol, jika di berikan uang mungkin akan dibelikan minuman, tetapi jika diberikan nasehat dan bimbingan dhamma mungkin akan meninggalkan kebiasaanya itu dan bisa sembuh, demikian juga berdana mencetak paritta suci, mencetak buku agama, membangun vihara juga disebut Dhammadana. Buddha menyatakan “Sabbadana Dhammadana Jinati” artinya persembahan dana untuk kepentigan Dhamma melebihi dana apapun.

B. Cara berdana yang baik

Dalam memberikan dana kita harus memperhatikan empat faktor agar pemberian barang atau jasa yang kita lakukan dapat memberikan pahala yang berlimpah-limpah yaitu:
1. Barang/jasa yang diberikan
2. Faktor niat (cetana)
3. Faktor tujuan berdana
4. Ladang untuk menanam jasa.

1. Faktor barang/ jasa yang diberikan hendaknya barang-barang yang bersih, artinya barang-barang tersebut bukan berasal dari hasil kejahatan. Barang-barang yang baik, barang-barang yang layak, barang-barang yang sesuai penerima, barang yang bersih akan membawa manfaat yang baik bagi pemberi dana maupun penerimanya.
2. Berdana atau melakukan perbuatan bajik apapun harus dimulai dengan niat (cetana) yang baik, niat dalam melakukan dana dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. Niat sebelum melakukan dana (pubbacetana)
b. Niat pada saat berdana (mucacetana)
c. Niat setelah memberikan dana (apara cetana)

Apabila ketiga niat dalam berdana terpebuhi maka dana yang diberikan akan memberikan hasil yang baik. Dari ketiga faktor niat itu, pikiran setelah berdana sangat menentukan pahala dari dana yang diberikan. Pikiran setelah berdana ini dapat terjadi, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan bahkan tidak terbatas waktunya. Oleh karena itu setelah selesai memberikan dana hendaknya tidak ada penyesalan atau kekecewaan, karena akan mempengaruhi pahala dari perbuatan tersebut.

3. Motivasi Berdana. Sutta-suta mencatat berbagai cara atau dorongan seseorang mempraktekkan kedermawanan:
a. berdana karena kejengkelan, atau sebagai cara untuk menyinggung si penerima, atau dengan ide menghina
b. berdana karena rasa takut
c. berdana sebagai balasan kebaikan yang dilakukan pada dirinya di masa lalu
d. berdana dengan harapan dirinya mendapatkan bantuan serupa di masa mendatang
e. berdana karena perbuatan berdana dianggap baik
f. berdana karena perasaan tidak enak äku memasak, sedangkan mereka tidak. Tidaklah pantas bila aku yang memasak tidak memberi mereka yang tidak memasak.”
g. Berdana untuk mendapatkan nama baik
h. Berdana untuk menghiasi dan memperindah pikiran.

Selain hal tersebut diatas ada dana diberikan untuk mempertahankan tradisi keluarga, keinginan untuk terlahir di alam surga. Tetapi diyatakan dalam sutta dana seharusnya diberikan tanpa pengharapan apapun Na sapekho danam deti. Tujuan tertinggi dari berdana adalah terhentinya kelahiran kembali dan mencapai Nibbana.

Terdapat 4 macam dana yang diberikan oleh orang-orang biasa yaitu:
a. Dana yang kecil, tetapi diberikan dengan rasa berat, misalnya dengan comelan atau dengan harapan timbal balik, maka hasilnya akan kecil.
b. Dana yang kecil, tetapi diberikan dengan rasa tulus ikhlas, maka hasilnya akan berlipat ganda
c. Dana yang besar, tetapi diberikan mengharap pujian, kedudukan atau karena terpaksa, maka hasilnya akan lebih kecil
d. Dana yang besar, tetapi diberikan dengan rasa ikhlas dan penuh dengan karuna, maka hasilnya akan berlimpah-limpah, baik dalam kehidupan sekarang maupun pada kelahiran yang akan datang.

4. Ladang untuk menanam jasa

Menurut ajaran Buddha dana-dana itu sebaiknya diberikan kepada :
a. Orang yang membuat si pendana bahagia karena memberi dana itu
b. Orang tua, orang yang pernah berjasa pada kita
c. Sangha, karena sangha adalah kelompok manusia yang melepaskan keduniawian dan memiliki pengendalian diri yang baik
d. Orang-orang suci yaitu orang yang telah terbebas dari kekotoran batin
e. Pertapa, dan brahmana yang hidup sederhana
f. Kaum miskin, pengemis dan kelana (pengembara)


C. Bagimana cara memberikan Dana yang Benar ?

Agar perbuatan berdana menjadi murni dan memiliki nilai yang tinggi, kita harus melakukannya dengan cara yang benar. Adapun cara yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah :
1. Hendaknya diberikan dengan cara yang pantas, sehingga yang diberi tidak merasa tersinggung
2. Hendaknya diberikan dengan rasa hormat
3. Hendaknya diberikan dengan tangan sendiri
4. Tidak memberikan dana apa yang hanya cocok untuk dibuang
5. Tidak sembarangan
6. Hendaknya diberikan dengan penuh keyakinan
7. Tepat pada waktunya
8. Diberikan kepada orang yang kesulitan
9. Bukan untuk mencari kepuasan dan kesenangan pribadi (duniawi)


D. Manfaatnya berdana

Berdana yang dilandasi oleh keyakinan dan kebijaksanaan akan memberikan nilai/manfaat antara lain :
1. Kebencian menjadi hilang
2. Dicintai orang lain
3. Mempererat persahabatan
4. Niatnya/Citacitanya dapat terkabul
5. Kelak setelah meninggal dunia dapat terlahir di Surga
6. Mempunyai nama yang baik
7. Jika terlahir kembali menjadi manusia maka akan mempunyi wajah yang elok, kaya, berusia panjang dan terhormat.

Kisah Sivali

Jasa kebajikan besar yang dapat dihasilkan dari dana yang kecil.
Pada jaman Buddha Vipassi, penduduk bersaing dengan raja mereka untuk melihat siapa yang dapat memberikan pemberian terbesar pada Sang Buddha dan Sangha. Segala kebutuhan untuk persembahan sudah diperoleh, kecuali madu segar. Maka mereka mengirimkanbanyak pesuruh yang berbekal banyak uang untuk membeli bahan yang masih kurang itu. Salah satu dari pesuruh ini bertemu denga penduduk desa yang kebetulan sedang membawa sarang lebah yang baru saja diambil untuk dijual dikota. Untuk bisa memperoleh madu itu, dia menawarkan seluruh uangnya yang berjumlah 1000 keping (yang nilainya tentusaja jauh melebihi harga sarang lebah itu). Tentu saja orang desa itu terkejut “ Apakah Anda gila? … Harga madu ini amat murah, tetapi anda menawar 1000 keping uang. Mengapa? Coba jelaskan.”Maka pesuruh itu pun menerangkan bahwa madu itu amat berharga karena merupakan bahan terakhir yang dibutuhkan untuk membuat persembahan bagi Sang Buddha yang akan dipersembahkan rakyat. Secara spontan, orang desa itu pun menjawab. “Kalau begitu, saya tidak akan menjual sarang labah ini walaupun dibayar berapapun. Jika saya memang bisa menerima jasa kebajikan dari persembahan ini, madu ini akan saya danakan saja. Para penduduk amat terkesan mengetahui keyakinan orang ini, yang dengan amat terkesan mengetahui keyakinan orang ini, yang dengan amat rela menolak rejeki nomplok seperti itu dan lebih memilih menerima jasa persembahan.karena hadiah sederhana pada zaman Buddha Vipassi ini, orang desa itu berkali-kali terlahir di alam surga dan kemudian menjadi pangeran yang mewarisi tahta kerajaan benares. Di kehidupan terakhirnya, dia menjadi Sivali Thera dan mencapai tingkat Arahat sebagai siswa Buddha Gotama.

Kisah Lajadevadhita

Pada suatu hari Y.A. Mahakassapa Thera setelah melakukan meditasi (samapatti) selama tujuh hari, beliau bangkit untuk memberi kesempatan kepada para umat untuk berdana. Laja memberikan segenggam jagung yang dimiliki. Ketika pulang pulang dari memberi dana tersebut ia dipatuk ular berbisa dan meninggal. Setelah meninggal ia terlahir di alam surga Tavatimsa dan dikenal sebagai Lajadevadhita. Laja menyadari bahwa terlahir di alam surga karena ia telah berdana segenggam jagung kepada Y.A. Mahakassapa Thera. Kemudian memutuskan untuk melakukan jasa baik kepada thera agar kebahagiaanya dapat bertahan. Setiap pagi deva itu pergi ke vihara untuk melakukan kebajikan dengan menyapu halaman vihara, mengisi air dalam bak mandi dan melakukan jasa-jasa lainnya.

Kisah seekor kelinci

Pada suatu ketika Bodhisatta terlahir sebagai seekor kelinci. Ia mempunyai tiga sahabat karib, seekor monyet. Seekor srigala dan seekor berang-berang, mereka hidup bahagia didalam hutan, suatu saat pada bulan purnama kelinci berbicara dengan kawan-kawannya, untuk melaksanakan kemoralan dan jika ada yang meminta sesuatu akan memberikan apa yang ia punyai. Hal ini mengakibatkan singgasana deva saka panas lantas dewa saka menjelma menjadi pertapa, ia menemui satu persatu binatang tersebut dan semua binatang tersebut memberikan apa yang ia punya. Kini giliran kelinci yang pada waktu itu tidak memiliki barang apa-apa, maka ia mengorbankan dirinya untuk disantap sang pertapa dengan cara menceburkan dirinya di api yang pertapa buat. Anehnya sang kelinci bukannya terbakar karena pertapa tersebut sebenarnya dewa saka yang menyamar.

PENGERTIAN SEHAT DAN SAKIT

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita mengalami saat-saat sehat dan kadang-kadang menderita sakit. Tidak ada seorang pun yang sehat terus menerus atau sakit terus menerus. Sehat dan sakit menimpa semua makhluk yang hidup silih berganti. Jika kita sedang sehat, kita dapat melakukan segala kegiatan dan aktivitas sehari-hari dengan ringan, enak dan nyaman. Saat kita sedang sehat berarti organ-organ dalam tubuh kita sedang berfungsi dengan baik. Sebaliknya jika badan kita sedang sakit, kita merasa berat untuk melakukan kegiatan apapun. Kita memerlukan pertolongan orang lain untuk membantu segala aktivitas dan kegiatan kita, termasuk memberikanmakanan, minuman, obat dan sebagainya. Jadi saat kita sedang Sakit berarti organ-organ dalam tubuh kita tidak bekerja dengan semestinya, terganggu dan tidak menurut.

B. Cara merawat orang sakit.

Bila kita atau teman kita sedang menderita sakit, kita harus dapat membantu menringankan penderitaan yang dialaminya dengan cara:

1. Menjenguk dan menghiburnya.
Langkah pertama jika kita mendengar berita bahwa teman kita sakit adalah datang menjenguknya dirumah atau dirumah sakit dimana dia dirawat. Menjenguk dan memberikan motivasi bahwa ia pasti sembuh dari penyakitna merupakan dorongan yang kuat bagi proses penyembuhanya. Orang yang sedang sakit memerlukan nasehat dan motivasi untuk proses penyembuhanya.

2. Membantu mengobati atau menolongnya
Jika kita tidak mempunyai kesibukan yang berarti, kita dapat menunggui teman kita yang sakit itu dan membantu menyuapinya makan dan minum obat yang diberikan dokter.

C. Cara memelihara kesehatan
Agar kita tidak menjadi sakit, kita harus berusaha untuk selalu menjaga kesehatan diri dan lingkungan kita. Kesehatan diri meliputi kesehatan jasmani dan rohani diantaranya:
1. Kesehatan diri
a. Mandi dengan sabun dan air bersih miniman 2 kali sehari
b. Makan teratur 3 kali sehari
c. Makan-makanan bergizi
d. Mengosok gigi sesudah makan
e. Istirahat dan tidur yang cukup
f. Memakai pakaian yang pantas dan bersih
g. Belajar dan bekerja dengan disiplin
h. Berolahraga secara teratur

2. Kesehatan rohani
a. Bersembahyang pagi dan sore
b. Meditasi minimal satu kali sehari menjelang tidur
c. Membaca kitab suci minimal satu ayat
d. Berdoa sebelum melakukan kegiatan

3. Kesehatan lingkungan
a. Menjaga kebersihan rumah dan halaman
b. Membersihkan tempat tidur
c. Menimbun benda-benda yang dapat menjadi sarang nyamuk
d. Merapikan taman dan rerimbunan di sekeliling rumah agar tampak asri indah dipandang mata
4. Kegitanan sosial
a. Bergaul dengan teman-teman yang baik
b. Menghormati orang yang lebih tua
c. Aktif dalam kegiatan di vihara atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan usia dan kegemarannya

H. Cara menjaga pikiran agar jasmani tidak sakit

Pada hakekatnya kesahatan jasmani dan rohani saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Jika jasmani atau basan kita sehat, maka pikiran atau rohani kita juga sehat.Namun sebaliknya jika rohani kita tidak sehat, maka jasmani kita juga akan sakit. Lalu bagaimanakah agar pikiran atau rohani kita tetap sehat?
Bila kita memakai baju yang bersih, kita merasa nyaman dan senang, namun baju yang kita pakai lama kelamaan akankotor. Kita harus mencucinya kembali dan menyetrikanya agar enak dipakai lagi. Begitu pula dengan pikiran kita. Kita akan merasa segar dan nyaman bila pikiran kita berseih dari kekotoran-kekotoran yaitu loba, dosa dan moha. Untuk membersihkan pikiran kita dari pengaruh kekotoran pikiran tersebut, kita harus melakukan meditasi dan merenungkan dan mengembangkan bentuk-bentuk pikiran baik agar pikiran jahat tidak muncul.

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com